TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Komunikasi antara orangtua dengan anak merupakan proses penting untuk menumbuhkan kedekatan. Apalagi ketika anak memasuki usia remaja. Remaja merupakan fase dimana anak mulai mencari jati diri dan memiliki keingintahuan yang tinggi.  Melalui komunikasi, kita bisa lebih mengenal anak kita dan terupdate dengan perkembangannya. Selain itu, kita dapat memfasilitasi mereka untuk mengekspresikan dan mengenali pengalaman hidup mereka. Melalui komunikasi, kita sebagai orangtua dapat mengarahkan mereka untuk melihat konsekuensi dan gambaran yang lebih besar dalam kehidupan mereka. Hal ini akan memampukan mereka untuk bertumbuh dengan optimal.
Berbicara dengan anak remaja tentu tidak mudah. Adanya perbedaan generasi, perubahan lingkungan pertemanan, dan anak yang mulai mengembangkan otonomi membuat orangtua sering mengalami konflik dengan anak remaja. Anak remaja merasa orangtua tidak mengerti mereka, sedangkan di satu sisi orangtua merasa bahwa anak sulit diajak berbicara. Dalam beberapa kasus, anak remaja jadi cenderung lebih tertutup, membuat komunikasi orangtua dengan anak remaja menjadi lebih sulit.
Parents, kita menyadari bahwa berbicara dengan anak remaja membutuhkan taktik yang berbeda. Kita tidak dapat menyuruh atau menghukum mereka dengan cara yang sama seperti ketika mereka masih anak-anak. Kita tidak dapat menasehati dengan penggunaan bahasa yang sama, kita juga sudah tidak dapat menggunakan batasan yang sama untuk mengontrol mereka. Komunikasi merupakan kunci penting dalam membangun hubungan, tapi ‘jembatan’ ini sering kali sulit untuk bertemu. Beberapa orangtua mungkin kesulitan untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan, dan anak remaja terkesan sulit mendengarkan. Bagaimana sih, agar kita dapat berkomunikasi dengan anak remaja?
Mendengarkan dengan sepenuh hati

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Anak remaja suka ketika pendapat mereka didengar. Mendengarkan adalah cara terbaik untuk menunjukan bahwa kita menghargai cerita, pendapat, perasaan, dan pemikiran mereka. Sebagai orang yang seharusnya dekat dengan mereka, tugas orangtua tidak hanya untuk menasehati, tapi juga menjadi tempat ‘curhat’ mereka.
Mendengarkan bisa menjadi tricky. Terkadang sebagai orangtua, kita salah mengartikan “memberi kesempatan berbicara” dengan “mendengarkan”. Ketika kita hanya memberi kesempatan berbicara, kita belum tentu mendengarkan anak. Tapi ketika kita mendengarkan, kita pasti akan memberikan anak kesempatan berbicara. Penting bagi kita untuk dapat membedakan keduanya.
Saat orangtua hanya memberikan kesempatan berbicara, orangtua bisa saja masih berkutat dengan pendapat dan pemikirannya tanpa benar-benar mencari makna dibalik apa yang anak katakan. Hal ini yang sering membuat anak merasa tidak dimengerti dan akhirnya menjauh.
Ketika orangtua benar-benar mendengarkan, kita akan memahami tidak hanya apa yang ia katakan, tapi juga apa yang ia rasakan dan inginkan. Cara terbaik untuk mendengarkan secara aktif adalah  dengan tidak menghakimi dan membiarkan diri kita penasaran. Dengan tidak menghakimi, kita membuka diri untuk semua kemungkinan dari cerita mereka. Dengan rasa penasaran, kita akan menggali hal-hal yang mereka enggan ceritakan sebelumnya, kita membuat anak merasa bahwa mereka berhak dan layan untuk dikenali secara utuh.
Berikan tanggapan yang tepat

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Jangan memberikan terlalu banyak pertanyaan atau nasehat di awal-awal pembicaraan. Ketika anak remaja bercerita, mereka bisa saja sedang belajar untuk mengkongkritkan perasaan yang abstrak dan kompleks. Alih-alih langsung memotong, menempis, atau menyimpulkan cerita mereka, kita dapat memberikan respon seperti “Oh, begitu..”, “Ohh..”, “Hm..” yang membantu mereka mengetahui bahwa kita bersedia menunggu mereka menyelesaikan ceritanya. Jika dibutuhkan, kita bisa membantu mereka untuk mengidentifikasi apa yang mereka rasakan. Emosi seperti marah, sedih, kesal, bingung, kecewa sering kali campur aduk dalam benak mereka. Dengan mendengarkan secara aktif, kita bisa membantu mereka memilah emosi-emosi tersebut dan mencari solusi yang efektif untuk itu.
Deskripsikan & berikan informasi

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Ketika berkomunikasi dengan anak, hindarilah kata-kata yang bersifat menyalahkan atau menuduh. Contoh: “Kamu sih, tidak mendengarkan mama”, atau “Kok lantainya kotor? Pasti karena kamu tadi tidak cuci kaki ya?”. Jika kita merasa ada yang perlu dibicarakan dengan anak, deskripsikanlah apa yang kita pikirkan, lihat, dan rasakan. Contoh: “Mama lihat tadi lantainya kotor”, “Tadi mama dihubungi oleh guru”. Mendeskripsikan apa yang kita lihat dan rasakan membantu anak untuk melihat apa yang mereka lakukan. Kita tidak harus menuduh mereka untuk membuat mereka menyadari bahwa mereka adalah pelakunya.
Setelah mendeskripsikan, penting bagi orangtua untuk memberikan informasi. Informasi yang dimaksud adalah dampak dari apa yang anak lakukan. Contoh: “Mama tadi di hubungi oleh guru. Sekarang mama jadi khawatir”. Remaja merupakan masa mengembangkan otonomi. Dalam hal ini, orangtua perlu memberikan anak ruang untuk memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Tidak hanya dalam konteks anak melakukan kesalahan. Teknik ini efektif untuk membangkitkan rasa empati dan inisiatif anak. Contoh: “Adiknya mama baru saja melahirkan anak kedua. Mama jadi ingin melihatnya”. Kalimat tersebut dapat memancing anak remaja memikirkan respon dan tanggapan yang tepat untuk diberikan kepada ibu.
Jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Ketika berkomunikasi dengan anak remaja, hindarilah mengajukan banyak pertanyaan. Mengajukan terlalu banyak pertanyaan dapat mengganggu area privasi mereka. Anak remaja akan ngobrol ketika ia mau ngobrol. Kita bisa memulai percakapan kita tanpa harus menghujani mereka dengan pertanyaan. Gunakan kalimat-kalimat seperti “Wah, mama senang kamu sudah pulang” atau “Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu”.
Hargai pengalaman mereka

TIPS BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA

Terkadang, apa yang menurut kita sederhana adalah hal yang sulit untuk anak. Ketika mereka berusaha menceritakan pengalaman atau kesulitan mereka, pastikan bahwa kita tidak mengecilkannya. Kata-kata seperti “Begitu saja menangis” atau “Begini saja tidak bisa” akan membuat anak menjauh dan tidak mau bercerita. Gunakanlah kata-kata positif yang lebih sering. Usahakan respon kita menunjukan bahwa kita bersedia membantu mereka. Contoh: “Mama tahu ini sulit. Tapi mama yakin kamu pasti bisa. Apa yang dapat mama bantu?”. Menunjukan sikap menghargai akan membantu anak untuk lebih terbuka dan merasa diterima. Bantu anak untuk menemukan dan menggunakan potensi yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah. Mendorong mereka untuk melihat potensi mereka akan membuat mereka semakin percaya diri.
Perbedaan generasi harus diakui. Dan meskipun ada nilai, prinsip, dan budaya keluarga yang tidak boleh dilanggar, kita harus membuka diri untuk kebaruan yang datang dari hidup anak remaja. Ada cerita dan pengalaman mereka yang mungkin membuat kita tidak nyaman. Tapi pertumbuhan mereka adalah tentang mereka, dan bukan tentang kita. Kita perlu menjadi mencoba menggunakan ‘kacamata’ mereka agar komunikasi berjalan dengan lancar.

Comments

0 comments

Write a comment

Comments are moderated