Hal-hal yang Perlu Ayah Ketahui dalam Mengasuh Anak Perempuan Gen Z

Kehadiran seorang Ayah tidak dapat dipungkiri bahwa pengasuhan penting untuk pertumbuhan anak. Sayangnya, pengasuhan sering dilihat sebagai tugas seorang ibu. Tidak sedikit ayah yang merasa bahwa anak lebih membutuhkan sosok ibu daripada sosok ayah. Tapi tahu kah ayah, bahwa peran ayah untuk anak tidak kalah penting?
Penelitian (dalam Sarkadi dkk., 2008) menemukan bahwa kehadiran ayah dalam kehidupan anak membuat mereka berkembang secara positif. Diantaranya adalah:
- Mengurangi perilaku bermasalah, termasuk menghindarkan mereka dari pergaulan bebas,
- Membantu anak mengembangkan kemampuan sosial yang baik,
- Meningkatkan prestasi akademik, dan
- Membantu anak memiliki kesehatan mental yang baik.
Usaha ayah mengasuh anak bukannya tanpa tantangan dan pertanyaan. Apa lagi ketika ayah memiliki anak perempuan. Perbedaan jenis kelamin dan persepsi peran merupakan tantangan pertama bagi seorang ayah dengan anak perempuan. Anak perempuan memiliki tahapan perkembangan yang berbeda dengan laki-laki – secara fisik maupun psikologis. Anak perempuan dikenal harus lembut dan melakukan yang harus perempuan lakukan. Sedangkan ayah bisa jadi tidak terbiasa dengan hal itu. Hal ini menimbulkan kesenjangan antara apa yang anak perempuan butuhkan dengan apa yang ayah percaya bisa ia lakukan.
Selain tantangan dari jenis kelamin yang berbeda, ayah juga menghadapi tantangan perbedaan generasi. Generasi Z terkenal dengan kedekatan dan kelihaian mereka di bidang teknologi. Gen Z menerima informasi jauh lebih cepat, mudah, dan luas dibandingkan generasi Millennial. Hal ini membuat Gen Z mengetahui lebih banyak di usia mereka yang sekarang, dibandingkan dengan generasi millennial di usia yang sama. Hill dalam tulisannya berjudul 'Screen Time: Understanding Generation Z' menuliskan bahwa Gen Z merasa lebih familiar dengan anak-anak seusia mereka di negara yang berbeda, ketimbang dengan orang dewasa yang ada di lingkungan dekatnya. Gen Z memiliki kebebasan untuk berbicara dan berpikir. Sifat mereka yang terbuka membuat mereka sering mengalami konflik dengan generasi sebelumnya yang cenderung lebih berhati-hati. Hal ini membuat kesenjangan informasi, preferensi, dan nilai yang ayah miliki dengan anak perempuan Gen Z menjadi lebih sulit untuk dijembatani.
Ayah, tantangan pengasuhan dewasa ini bisa jadi semakin rumit dan sulit. Belum lagi ditambah dengan dengan masalah-masalah lain dalam keluarga yang bisa membuat ayah semakin jauh dengan anak perempuan. Namun perlu diingat bahwa perbedaan jenis kelamin dan generasi tidak mematahkan fakta bahwa anak perempuan tetap membutuhkan sosok ayah dalam hidup mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Zia dkk (2015) menemukan bahwa ayah yang terlibat dalam kehidupan anak perempuan memampukan mereka untuk membentuk gambar diri yang baik, meningkatkan kepercayaan dan apresiasi diri, serta mendorong mereka mencapai target atau goal. Oleh sebab itu, mengenali peran pengasuhan ayah bagi anak perempuan Gen Z sangatlah penting.
Peran Ayah dalam mengasuh Anak Perempuan Gen Z
Sering kali ayah bingung mengenai apa yang harus dilakukan dalam pengasuhan dan bagaimana untuk memulai. Tapi, ayah jangan khawatir. Kunci dalam pengasuhan adalah tahu apa yang dapat diberikan untuk anak. Berikut adalah hal-hal yang dapat ayah lakukan untuk putri Gen Z ayah (Morgan dkk., 2003):
- Membangun relasi

Gen Z sangat peduli pada relasi yang mereka bangun dengan orang lain. Relasi menjadi kunci penting agar pengasuhan berjalan dengan efektif. Penelitian menemukan bahwa well-being anak perempuan meningkat ketika ia memiliki relasi yang positif dengan ayah. Merasa dekat dengan ayah membangun rasa percaya diri, kepuasan, dan kesehatan mental anak perempuan. Melalui relasi yang baik, pengasuhan ayah dapat dilakukan dengan efektif.
Hangat adalah kata kunci yang penting saat membangun relasi. Bagi sebagian ayah, menunjukan kehangatan adalah hal yang tidak mudah. Laki-laki biasanya dilihat sebagai sosok yang logis dan tidak emosional. Hal ini terkadang membuat laki-laki kesulitan saat diminta mengekspresikan rasa sedih, terharu, dan lemah lembut yang dibutuhkan untuk berempati. Akibatnya, ayah dirasa jauh dan tidak bisa memahami perasaan anak perempuan. Menunjukan perasaan yang tulus dan terbuka pada putri ayah membantu mereka mengerti bahwa mereka memiliki sosok ayah yang siap berada di sisi mereka saat mereka menghadapi masalah. Kesediaan ayah untuk melindungi putri ayah melindungi mereka dari pergaulan bebas.
- Menunjukan afeksi, apresiasi, dan persetujuan

Dapat dilakukan dengan memuji, menunjukan ketertarikan pada hobi mereka, mendorong atau memotivasi, hadir di momen-momen penting dalam kehidupan anak (seperti lomba, upacara kelulusan, ulang tahun, dll). Gen Z senang ketika mereka bisa berdampak atau melakukan sesuatu yang berarti. Afeksi, apresiasi, dan persetujuan adalah respon yang tepat untuk mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hal yang tepat. Hal ini akan membantu putri ayah untuk menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan melihat diri sendiri sebagai pribadi (self-image) secara positif, dan membangun relasi yang sehat (Zia dkk., 2015).
- Membantu mereka menghadapi masalah

Dapat dilakukan dengan menawarkan apa yang bisa ayah lakukan, mendengarkan, mendampingi anak perempuan ketika sedang sedih/ marah, memberikan perspektif baru, dll. Gen Z suka dengan konsep kerjasama atau kemitraan. Posisikan diri ayah sebagai rekan yang siap membantu, memperlengkapi, dan berkolaborasi dengan putri ayah. Kesediaan ayah untuk membantu anak perempuan menghadapi permasalahan membantu mereka untuk mengembangkan kemampuan sosial (Hooven dkk., 1995)
5 tips aktivitas Bersama Putri Gen Z
Pengasuhan ayah untuk anak perempuan dapat dilakukan dengan banyak cara. Dari gambaran pengasuhan ayah di atas, ada beberapa aktivitas yang dapat ayah coba bersama putri Gen Z ayah:

1. Menemani atau mendukung anak saat melakukan apa yang mereka sukai

Gen Z berkomitmen saat mengerjakan apa yang mereka sukai. Dengan mendukung apa yang anak perempuan ayah sukai, ayah menghargai komitmen dan dedikasi mereka. Selain itu, dengan mendukung putri ayah, ayah dapat menunjukan bahwa hobi mereka signifikan dan bisa berdampak. Jika putri ayah suka memasak, dukunglah mereka dengan membelikan bahan-bahan masakan yang mereka butuhkan. Ayah juga bisa memuji hasil buatan mereka atau memberi masukan untuk perkembangan keterampilan mereka.
2. Menonton film bersama

Film adalah salah satu cara yang baik untuk dihabiskan bersama keluarga. Film memiliki banyak genre yang dapat membantu ayah dan putri ayah menemukan film kesukaan dengan mudah.
3. Mendiskusikan tren yang terjadi di dunia mereka

Gen Z suka jika opini mereka didengar. Ayah dapat mengambil waktu untuk mengikuti tren Gen Z melalui platform media sosial seperti Instagram, Tik Tok, atau Twitter. Ayah juga dapat secara aktif mendengarkan isu yang putri ayah sering bicarakan di rumah. Tidak lupa, tanyakan pendapat mereka tentang hal tersebut. Diskusi seperti ini memberikan topik pembicaraan saat makan malam, atau ketika ayah dan putri ayah sedang dalam perjalanan ke suatu tempat. Hal ini membantu ayah untuk mengerti apa yang putri ayah sedang rasakan atau pikirkan.
4. Memainkan game online bersama

Game online kini tidak asing, bahkan untuk anak perempuan. Ayah bisa mengajak mereka memainkan game online bersama untuk meningkatkan kedekatan.
5. Membuat project kemanusiaan bersama

Hill menyebutkan bahwa 60% dari Gen Z ingin berdampak pada dunia, dan 76% Gen Z peduli terhadap kemanusiaan. Mereka suka mengerjakan sesuatu yang bermakna, tidak hanya bagi dirinya, tapi juga untuk orang lain. Ayah dapat menggali isu apa yang menarik perhatian putri ayah. Apakah itu isu global warming, kesehatan mental, feminisme, kelaparan, kesehatan, pendidikan, dll. Tanyakan bagaimana ayah dapat membantu dan apakah mereka tertarik untuk mengerjakan proyek itu bersama.
Masih ada aktivitas lain yang dapat ayah lakukan bersama dengan putri ayah, tapi tidak ada cara-cara pasti yang berlaku untuk semua orang. Putri ayah adalah anak yang spesial. Tidak ada yang dapat mengenal dan memahaminya lebih baik daripada ayah dan ibunya. Hal ini membuat ayah menjadi sosok yang penting. Sama seperti kaki kanan dan kiri yang saling menyeimbangkan, demikian juga pengasuhan ayah akan menyeimbangkan pengasuhan ibu untuk pertumbuhan optimal putri ayah.

Referensi:
Hill, S. Screen Time: Understanding Generation Z.
Morgan, J. V., Wilcoxon, S. A., & Satcher, J. F. (2003). THE FATHER-DAUGHTER RELATIONSHIP INVENTORY: A VALIDATION STUDY. Family Therapy: The Journal of the California Graduate School of Family Psychology, 30(2).
Sarkadi, A., Kristiansson, R., Oberklaid, F., & Bremberg, S. (2008). Fathers' involvement and children's developmental outcomes: a systematic review of longitudinal studies. Acta paediatrica, 97(2), 153-158.
Zia, A., Malik, A. A., & Ali, S. M. (2015). Father and daughter relationship and its impact on daughter’s self-esteem and academic achievement. Academic journal of interdisciplinary studies, 4(1), 311.

Comments

0 comments

Write a comment

Comments are moderated