Ciri-Ciri Relasi Pacaran yang Sehat dan Toxic. Kalian yang mana?

Pacaran merupakan fase penting dalam perjalanan menuju pernikahan. Di fase ini, masing-masing individu belajar berkomitmen, menyesuaikan, dan mempersiapkan diri untuk menjadi rekan membangun keluarga. Setiap pasangan memiliki durasi masa pacaran yang berbeda. Tidak ada rumus pasti untuk menentukan masa pacaran yang ideal.  Masa pacaran dijalani dan akan dihentikan jika kedua pasangan memutuskan untuk masuk ke musim yang baru.
Seperti yang sudah kita ketahui, salah satu alasan populer untuk membangun hubungan romantis adalah cinta. Jatuh cinta membuat kita berbunga-bunga, apa lagi ketika kita memiliki kedekatan spesial dengannya. Penelitian mengungkapkan bahwa ketika kita mencintai seseorang, otak kita mengeluarkan hormon oksitosin dan dopamin. Hormon oksitosin sering disebut dengan hormon cinta. Hormon ini berfungsi untuk meningkatkan rasa percaya, empati, dan juga mendorong seseorang untuk membangun relasi (Yong, 2012).

Sedangkan dopamin adalah hormon yang bertugas untuk hadiah (Takahasi dkk., 2015). Hormon ini berfungsi untuk membuat kita senang dan atau puas, sehingga kita tetap mempertahankan apa yang saat itu kita lakukan. Aktifnya hormon oksitosin dan dopamin membuat kita menikmati masa pacaran dan melihat fase itu sebagai fase yang menyenangkan.
Bagi anak muda, masa pacaran memang merupakan masa yang spesial. Tapi bukan berarti kita dapat memulai pacaran karena ‘cinta buta’.

Masa pacaran sama seperti pedang bermata dua. Ia memiliki resiko dan juga benefit tersendiri. Ketika kita membangun hubungan dengan orang yang salah, kita akan terjebak dalam toxic relationship dan terancam kehilangan diri sendiri. Jika kita membangun hubungan dengan orang yang tepat, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik. Mari kita mengambil waktu sejenak untuk melihat apa tanda-tanda toxic relationship dan relasi berpacaran yang sehat.
Tanda-Tanda Toxic Relationship

Ciri-Ciri Relasi Pacaran yang Sehat dan Toxic. Kalian yang mana?

 

Toxic relationship diartikan sebagai hubungan yang tidak sehat atau disfungsional. Bentuk toxic relationship bisa bermacam-macam tergantung dari individu yang menjalani. Tapi meskipun demikian, bukan berarti toxic relationship tidak bisa dikenali. Menurut Solferino dan Tessitore (2019), semua toxic relationship ditandai oleh:
Adanya kesenjangan
Kesenjangan yang dimaksud dalam toxic relationship bukan sekedar kesenjangan usia ataupun kedewasaan. Bukan juga mengenai kesenjangan finansial atau kecerdasan. Kesenjangan dalam toxic relationship berbicara mengenai kesenjangan kuasa dan nilai diri. Contohnya, satu pihak merasa sangat tidak berharga, tidak mampu, selalu gagal, tidak dicintai, lemah; sedangkan pihak yang lain merasa sangat percaya diri, memberikan nilai untuk pasangan, pasti mampu, sangat berharga, sangat penting, tidak boleh diabaikan. Kesenjangan bersifat toxic ketika hal ini tidak mendorong individu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap mempertahankan kedudukan yang tidak seimbang ini.
Salah satu individu yang menjadi sangat tergantung pada yang lain
Relasi berpacaran membutuhkan keterbukaan dan kesediaan untuk bergantung pada pasangan. Hal ini menandakan adanya kepercayaan. Tapi lain halnya jika ketergantungan tersebut malah membuat individu tidak berkembang, menuntut dilindungi, merasa tidak mampu jika sendiri, dll. Ketergantungan yang berlebihan dalam toxic relationship membuat kita merasa bahwa hanya pasangan kita yang mampu membuat kita bahagia dan antusias, sama seperti kecanduan. Untuk menghindari rasa penolakan, diabaikan atau ditinggalkan, individu yang “kecanduan” ini rela untuk kehilangan dirinya dan memusatkan perhatian untuk membuat pasangan senang.
Dominasi yang berlebihan
Dominasi yang berlebihan biasanya diiringi dengan kontrol yang berlebihan pula. Dalam toxic relationship, dominasi yang berlebihan membuat individu merasa bahwa ia tidak boleh ditentang dan keputusan yang dibuatnya adalah mutlak. Selain itu, dominasi berlebihan yang muncul dari kecemasan membuat individu untuk “mengikat pasangan” dengan banyak cara. Seperti memberi banyak peraturan/ batasan, dan atau menghina pasangan. Contoh: menentukan dengan siapa pasangan boleh atau tidak boleh pergi, menuntut banyak waktu dan energi, memanfaatkan kelemahan pasangan agar pasangan tidak berani melawan, dll.
Ketiga hal ini kemudian menciptakan mekanisme hubungan yang disfungsional, dimana hanya satu pihak yang berusaha untuk membuat pasangan bertahan dalam hubungan. Satu individu memberi terlalu banyak, sedangkan individu yang lain tidak berkontribusi dalam mempertahankan hubungan.

Tanda-Tanda Relasi yang Sehat

Ciri-Ciri Relasi Pacaran yang Sehat dan Toxic. Kalian yang mana?

Setelah kita melihat tanda-tanda toxic relationship, mari kita mengintip tanda-tanda relasi pacaran yang sehat menurut ahli. Maslow (1986) menekankan bahwa individu yang sehat mampu berkembang secara utuh dan dewasa. Dalam hal ini, jika toxic relationship membuat kita kehilangan diri sendiri, hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kita untuk bertumbuh.
Ini tanda-tanda hubungan pacaran yang sehat menurut ahli (Eckstein, 2004).

Spesial, tapi tidak eksklusif

Masing-masing individu dalam hubungan merasa bahwa hubungan yang dibangun bersama pasangan adalah hal yang spesial. Mereka tahu pentingnya untuk menjaga privasi dan menghabiskan waktu berdua. Tapi di satu sisi, hal itu tidak membuat mereka tertutup dengan lingkungan luar. Mereka tetap dapat beraktivitas bersama dalam lingkungan pertemanan maupun keluarga, tanpa merasa tidak nyaman.

Komunikasi yang apa adanya

Komunikasi yang sehat adalah komunikasi yang tidak dibuat-buat. Pesan verbal dan bahasa tubuh selaras yang diberikan selaras. Adanya keterbukaan, dan rasa aman saat menyampaikan isi hati. Masing-masing individu dalam hubungan bisa menjadi diri mereka sendiri dan menyampaikan suara mereka masing-masing.

Adanya kepemimpinan dan level kontrol yang seimbang

Relasi yang sehat tidak memiliki kesenjangan dan tiap individunya saling mendukung. Yang memimpin dalam hubungan tidak hanya 1 pihak secara terus menerus, tapi disesuaikan dengan keahlian individu. Individu dalam hubungan berani menyatakan pendapat sebagai miliknya (contoh: Aku merasa, Aku berpikir, Menurutku, dst) dan memiliki bargaining power.

Adanya otonomi dan tidak kehilangan identitas diri

Hubungan yang sehat mendorong kita untuk percaya pada kemampuan dan mencintai diri sendiri. Kita tidak hanya memikirkan soal pasangan, tapi juga bagaimana merawat dan mengembangkan diri sendiri. Kita bisa tetap merasa cantik dengan atau tanpa pujian dari pasangan. Kita bisa memiliki kepercayaan diri untuk sukses tanpa atau dengan bantuan pasangan. Hubungan yang sehat membuat kita menjadi lebih mandiri dan memacu kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Berorientasi pada pemecahan masalah

Relasi yang sehat selalu mengakhiri konflik hingga ke akar. Konflik yang tidak diselesaikan dengan baik sama seperti luka yang tidak disembuhkan dan menyebabkan penyakit akut. Masing-masing individu tidak menghindari, menutupi, atau pura-pura tidak mengalami masalah atau rasa sakit. Tidak hanya itu, masing-masing juga termotivasi untuk menyelesaikan masalah dengan tuntas.
Keluar dari Toxic Relationship menuju ke Pacaran yang Sehat.
Untuk dapat keluar dari toxic relationship, kita perlu menyadari bahwa kita sedang mengalaminya. Kesadaran adalah hal yang penting, namun seringkali diabaikan. Banyak orang merasa tapi menolak mengakui toxic relationship. Oleh sebab itu, butuh keberanian untuk mulai menyadarinya.
Setelah menyadari bahwa relasi pacaran kita tidak sehat, kita perlu mengambil waktu untuk mengajak pasangan kita keluar dari toxic relationship bersama-sama. Mulailah mencari waktu untuk saling memahami, mendapatkan perspektif yang benar tentang hubungan, dan menguatkan identitas diri. Sakit yang berbeda membutuhkan pengobatan yang berbeda pula. Sama dengan relasi yang tidak sehat membutuhkan obat khusus yang tidak dapat diberikan oleh orang lain. Pasangan perlu berkomitmen untuk kesembuhan dan bekerjasama untuk mencapainya.

Referensi:
Eckstein, D. (2004). The “A’s and H’s” of Healthy and Unhealthy Relationships: Three Relationship Renewal Activities. The Family Journal, 12(4), 414-418.
Solferino, N., & Tessitore, M. E. (2019). Human networks and toxic relationships.
Takahashi, K., Mizuno, K., Sasaki, A. T., Wada, Y., Tanaka, M., Ishii, A., ... & Watanabe, Y. (2015). Imaging the passionate stage of romantic love by dopamine dynamics. Frontiers in Human Neuroscience, 9, 191.
Yong, E. (2012). Dark side of the love hormone. New Scientist, 213(2851), 39-41.
https://nationalgeographic.grid.id/read/131242577/jatuh-cinta-dan-penjelasan-ilmiah-di-belakangnya

Comments

0 comments

Write a comment

Comments are moderated