10 Kebiasaan yang Tanpa Anda Sadari Menyumbangkan Limbah Plastik

Dalam mengurangi limbah plastik, hal pertama yang biasanya dilakukan adalah membawa tas kain sebagai ganti dari kantong plastik. Selain itu, membawa botol minum dan tempat makan juga menjadi langkah awal mengurangi sampah plastik. Sayangnya, masih banyak kebiasaan lain kita yang menyumbangkan limbah plastik pada lingkungan, berikut adalah 10 di antaranya:
1. Belanja online
Aplikasi-aplikasi e-commerce mempermudah kita dalam membeli barang. Biasanya dalam sekali checkout, bisa langsung membeli berbagai jenis produk dari toko yang berbeda, dan semuanya bisa gratis ongkir.
Memang ini semua sangat praktis dan ekonomis, tetapi dampaknya pada lingkungan sangat besar. Satu paket saja menggunakan satu kantong plastik, kemudian disegel menggunakan isolasi yang terbuat dari plastik juga. Kemudian oleh agen pengiriman akan dilapisi lagi dengan plastik supaya tidak kena hujan. Belum lagi jika barang fragile atau rapuh sehingga di bagian dalam dilapisi bubble wrap lagi yang juga merupakan plastik.
Jadi tiap kali checkout harus dipikir lagi, ya. Memang aplikasi e-commerce mempermudah tapi usahakan membeli barang dari toko yang sama untuk meminimalisir packaging. Hanya beli barang yang diperlukan.
Alternatif: Beli barang langsung di toko dan bawa pulang menggunakan tas pribadi. Bisa juga belanja melalui website resmi yang menggunakan packaging kardus bio-degradable. Website-website yang memang mengedepankan eco-friendly tidak menggunakan plastik dalam pengiriman dan paket dijamin tidak basah walaupun tidak menggunakan packaging plastik.
2. Sering memesan makanan melalui delivery
Memesan makanan melalui aplikasi ojol juga menambahkan kemasan sekali pakai. Makanan akan diberikan dalam styrofoam, plastik, atau kardus yang akhirnya langsung dibuang.
Alternatif: Masak makanan sendiri atau paling tidak beli makanan dengan pick-up sendiri. Bawa tempat makan dari rumah untuk menampung makanan.
3. Belanja di pasar

10 Kebiasaan yang Tanpa Anda Sadari Menyumbangkan Limbah Plastik

Mungkin di Jakarta sudah tidak bisa mendapatkan kantong plastik saat belanja, tapi nyatanya jika belanja di pasar tradisional, semua belanjaan masih dikemas dalam kantong plastik. Tentu saja, yang harus dihentikan di sini bukanlah belanja di pasar, melainkan kebiasaan menerima begitu saja kantong plastik dari pasar.
Memang belanjaan dari pasar lebih ribet untuk dimasukkan ke dalam tas yang dipakai berulang kali karena tas akan kotor, namun itulah harga yang harus dibayar untuk menjaga lingkungan. Cuci tas yang Anda gunakan untuk belanja ke pasar secara berkala, paling tidak seminggu sekali, untuk menghindari kontaminasi mikroba pada bahan makanan.
Alternatif: Daripada tas kain, gunakan tas bahan rotan supaya kotoran tidak mudah menempel dan lebih mudah dibersihkan. Untuk membeli daging atau ikan, bisa bawa Tupperware berukuran besar pdari rumah.
4. Menggunakan sikat gigi plastik

10 Kebiasaan yang Tanpa Anda Sadari Menyumbangkan Limbah Plastik

Inilah yang kita tidak sadari. Terbuat dari apakah sikat gigi Anda? Jika diperhatikan secara sekilas pun, ya, jawabannya adalah plastik. Sikat gigi merupakan sesuatu yang harus kita beli secara berkala supaya tidak menjadi sarang bakteri. Sayangnya ke manapun Anda pergi biasanya sikat gigi yang dijual terbuat dari plastik, dan jenis plastik ini tidak bisa diuraikan sehingga akhirnya menumpuk di TPA.
Alternatif: Gunakan sikat gigi berbahan bambu.
5. Membeli cemilan kemasan
Saat ini kebanyakan cemilan yang dijual di minimarket dikemas dalam kemasan yang mengandung plastik. Plastik keripik biasanya menggunakan kemasan polypropylene (PP). PP merupakan salah satu plastik yang paling sedikit didaur ulang, bahkan persentase daur ulangnya di bawah 1%.
Alternatif: Beli cemilan kiloan dan bawa pulang menggunakan Tupperware atau toples yang Anda bawa dari rumah. Anda juga dapat membeli cemilan dengan kemasan biodegradable atau compostable.
6. Membeli minuman kemasan
Sama saja dengan cemilan kemasan, minuman kemasan juga menyumbangkan banyak sampah. Akan tetapi yang perlu diperhatikan pada minuman kemasan adalah walaupun kemasannya sendiri terbuat dari kardus yang bisa diuraikan, kebanyakan minuman kotak datang bersama sedotan plastik. Seringkali orang sudah menggunakan sedotan stainless steel saat membeli minuman seperti boba, namun tetap membeli minuman kemasan seperti susu yang memberikan sedotan plastik sekali pakai.
Alternatif: Beli minuman kemasan dalam jumlah besar, seperti susu 1 liter yang untuk meminumnya menggunakan gelas. Minuman yang dikemas dalam karton lebih baik daripada kemasan botol plastik karena jauh lebih mudah diuraikan.
7. Mengunyah permen karet

10 Kebiasaan yang Tanpa Anda Sadari Menyumbangkan Limbah Plastik

Permen karet memang tidak boleh ditelan, dan ternyata tidak bisa diuraikan juga di tempat pembuangan. Kebanyakan permen karet terbuat dari poliisobutilena anorganik atau basis karet polivinil asetat, yaitu plastik sintetis yang tidak bisa diuraikan. Bahan-bahan tersebut adalah bahan yang sama dengan bahan untuk membuat perekat dan ban, yang dibuat untuk tahan lama. Inilah mengapa bekas permen karet di bawah kursi dapat bertahan selama bertahun-tahun.
Binatang seperti burung, tikus, dan bahkan ikan dapat memakan permen karet bekas yang dibuang dengan tidak benar. Permen karet dapat menyumbat pencernaan mereka dan mengakibatkan tubuh mereka beracun. Sinar matahari dapat memecah permen karet menjadi mikroplastik sehingga akhirnya mengkontaminasi laut dan makanan kita. Dalam kasus kebakaran TPA, plastik sintesis dalam permen karet yang terbakar juga dapat melepaskan bahan kimia berbahaya ke udara.
Alternatif: Tidak usah konsumsi permen karet.
8. Mendekorasi pesta dengan balon
Balon ada yang terbuat dari plastic maupun lateks. Keduanya sama saja, pada akhirnya sampahnya akan mencemari lingkungan mulai dari di jalanan, pohon, kabel listrik, sampai tentu saja perairan. Menurut Associated Press, balon adalah hal selanjutnya yang harus dilarang setelah sedotan plastik dan kantong plastik. Memang bentuk dan warnanya sangat cantik, tapi dibandingkan sedotan dan kantong plastik, justru balon paling tidak berguna dan seharusnya mudah untuk dilepaskan, bukan?
Alternatif: Gunakan hiasan dari kertas sebagai pengganti balon.
9. Penggunaan pembalut
Pembalut memang memanfaatkan plastik untuk menahan supaya darah menstruasi tidak menembus pakaian. Penggunaan pembalut memang praktis, tapi dampaknya bagi lingkungan sangat besar. Bayangkan saja, seorang wanita dapat menggunakan sekitar 10-15 pembalut dalam sebulan, bila dikalikan dengan seluruh wanita di dunia jumlahnya sangat besar.

10 Kebiasaan yang Tanpa Anda Sadari Menyumbangkan Limbah Plastik


Alternatif: Gunakan diva cup atau tampon tanpa aplikator. Bila tidak nyaman, paling tidak cobalah gunakan pembalut kain atau pembalut organik.
10. Menggunakan pembersih wajah yang mengandung microbead
Kebanyakan plastik yang mencemari laut adalah mikroplastik, yaitu plastik yang ukurannya sangat kecil. Biasanya microbead dimaksudkan sebagai eksfoliator, namun fasilitas pengolahan air tidak dapat menyaringnya sehingga masuk ke pembuangan dan kembali ke laut. Hewan laut akhirnya menyerap atau memakan mikroplastik dan akhirnya mikroplastik masuk ke dalam rantai makanan satwa laut, termasuk dikonsumsi oleh manusia yang memakan seafood.
Alternatif: Hindari produk pembersih wajah atau kulit yang mengandung “polypropylene” atau “polyethylene”. Tidak hanya produk kulit, terkadang pasta gigi juga mengandung bahan-bahan tersebut.
Indonesia menjadi negara penyumbang plastik terbesar kedua di dunia. Tiap hari, Indonesia menghasilkan 24.500 ton plastik, dengan 81% sampah tidak disortir, sehingga sulit untuk didaur ulang dan akhirnya berakhir di tempat pembuangan atau menjadi polusi di laut. Mulailah langkah dari sekarang untuk mengurangi limbah plastik Indonesia dan dunia.

Comments

0 comments

Write a comment

Comments are moderated